Event Lampung - Akhir tahun seharusnya menjadi waktu untuk menutup lembaran dengan syukur, merayakan pencapaian, dan menyalakan harapan baru. Namun bagi ribuan warga di Sumatera, penghujung tahun justru datang bersama derasnya air, runtuhnya rumah, dan hilangnya orang-orang tercinta.
Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera bukan sekadar bencana alam. Ia menjadi pukulan kemanusiaan, meninggalkan luka mendalam bagi bangsa ini. Di saat sebagian masyarakat sibuk menghitung mundur pergantian tahun, ada saudara-saudara kita yang menghitung kehilangan: kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa keluarga mereka.
Air Bah dan Air Mata
Di Aceh dan wilayah lain yang terdampak, banjir datang tanpa ampun. Air menggenangi rumah-rumah, menyeret kendaraan, memutus akses desa, dan memaksa ribuan orang mengungsi. Anak-anak kehilangan sekolahnya, orang tua kehilangan ladang dan usaha, dan banyak keluarga kehilangan masa depan yang selama ini mereka bangun perlahan.
Bagi para korban, akhir tahun bukan tentang resolusi, melainkan bertahan hidup. Di tenda-tenda pengungsian, dingin malam bercampur dengan cemas akan hari esok. Di sanalah kemanusiaan diuji—bukan oleh alam, tetapi oleh bagaimana sesama manusia saling merespons penderitaan.
Bencana yang Menguji Solidaritas Bangsa
Tragedi ini mengingatkan kita bahwa bencana tidak mengenal kalender. Ia datang kapan saja, dan ketika datang, ia menuntut lebih dari sekadar empati di media sosial. Ia menuntut aksi nyata: uluran tangan, bantuan logistik, doa, dan kepedulian yang berkelanjutan.
Solidaritas bangsa bukan hanya terlihat saat kamera menyala, tetapi saat bantuan terus mengalir meski sorotan mulai meredup. Saat relawan tetap bertahan di lapangan. Saat masyarakat tidak melupakan korban meski tahun telah berganti.
Akhir Tahun, Awal Kepedulian
Di tengah duka ini, akhir tahun seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan alam. Bahwa mitigasi bencana bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Dan bahwa kemanusiaan adalah nilai yang harus terus dijaga, terutama saat saudara kita berada dalam kondisi paling rapuh.
Banjir Sumatera adalah pengingat keras bahwa kita adalah satu bangsa. Ketika satu daerah terluka, seluruh negeri seharusnya ikut merasakan. Menjaga solidaritas bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab moral.
Menutup Tahun dengan Doa dan Aksi
Saat tahun berganti, mari kita tutup dengan doa untuk para korban, dan membuka tahun baru dengan komitmen: untuk lebih peduli, lebih peka, dan lebih hadir bagi sesama. Karena sejatinya, kemanusiaanlah yang menjadi cahaya di tengah bencana.
Akhir tahun ini mungkin basah oleh air bah dan air mata. Namun semoga dari sana tumbuh harapan—bahwa bangsa ini masih memiliki hati, dan tidak pernah kehabisan solidaritas.
